Senin, 07 Maret 2016

Jerman Tidak Selebar Peter Maffay..


Ngomongin lagu lezat nikmat asal jerman? Umumnya yang paling nempel di kepala adalah Peter Maffay atau Heintje. Itu lho lagunya  yang paling sering muncul di kaset/CD kompilasi evergreen hits atau best nostalgia.

Jerman tidak selebar cover kaset!  Siapa yang tidak mengenal komposer besar asal Jerman seperti Bach, Schubert, Beethoven, Mozart?

Sebelumnya saya berfikir bahwa selain musik klasik atau tradisionalnya, Jerman  tidak memiliki kekhasan lagu modern (pop) yang lezat untuk diicip-icip. Paling sama saja dengan import dari Amerika atau Inggris.

Adalah Deutsche Schlager.  Muncul sebagai perlawanan negeri jerman dan sekitarnya atas invasi rock and roll Amerika di dekade 60an. Komposisi schlager biasanya memiliki pola sederhana, easy listening, melodius,  sentimentil, sangat pop dan tidak pernah jauh berputar dari sekitar kisah cinta. auuw!

Salah satu bintang schlager yang paling saya suka adalah Roy Black. Masih banyak sebenarnya penganut sekte schalger ini yang sukses diantaranya seperti Udo Jurgen, Peter Alexander, Mary Roos, Vicki Leandros, Jurgen Drews, Andrea Berg, helena Fischer etc

Dari beberapa lagu/album schlager yang berhasil saya seruput. Roy Black boleh dibilang Andy Williams-nya Jerman. Sukses selain menyanyikan lagunya sendiri, juga sukses meng-adaptasi lagu penyanyi lainnya dengan vokal khas yang lovable adorable :) Sebagai contoh sebut saja What a Wonderful World-nya Louis Armstrong dibawakan dengan gaya schlager menjadi lebih easy listening Wunderbar ist die Welt. Atau Wie Ein Schlag Ins Gesicht yang diadaptasi dari lagu sukses penyanyi Italia Nicola Di Bari -  Il Cuore E Uno Zingaro

Suatu pagi saya sedang menikmati koleksi Roy Black - Il Silenzio. Tetiba tetangga ketuk pintu " permisi pak, siapa yang meninggal?". Gedubrak!. Baru tersadar kalau lagu yang diputar adalah adaptasi komposisi Nini Rosso yang biasanya digunakan sebagai instrumental kabar kematian di Radio  .tetettttt tetettt ttetetetee..! 

Roy Black melakukan vokalisasi sempurna instrumental kematian itu ke dalam lagu yang indah tanpa mengubah harmonisasi asli. Sumpah merinding tapi asyiik dinikmati. Ngeri ngeri  sedap di kuping saya.

Sayang banget ya om Roy Black ini, sukses dunia musik tidak berbanding lurus dengan kehidupan pribadinya. Begitu tragis menyayat sepedih Il Silenzio!





Serge Gainsbourg. Masih ada satu lagi ternyata...



Musik adalah universal. Terkadang agak jengah juga kalau ada kawan atau rekan kantor yang komentar " emang anda ngerti lagunya?" Haloowww Pak..Bu.. Coba pertanyaan itu anda tanyakan pada pencinta musik klasik yang memang tidak berlirik?. Jawabnya apa kira kira? hihihihi

Menikmati lagu/musik adalah menikmati harmonisasi sajian menu dengan nada nada yang dipadu indah, dimasak dengan alat musik yg pas, dibumbui dengan vokal indah dan disajikan dengan lirik yang indah. Jadi bagi saya lagu itu disajikan dengan piring seng atau plastik atau langsung disantap dari wajan sekalipun, kalau dasarnya itu lagu indah ya tetap nikmat untuk disantap.Lirik bagi saya nggak penting. *banting piring seng*

Akhirnya saya jawab dengan sedikit diplomatis " kalau suka lirik yg indah, Bapak Ibu, mendingan baca karya Khalil Gibran  saja. Fullstop.

Eit kelupaan bahas judul postingan. Malahan curcol!
Sebenarnya album the Best of Serge Gainbourg ini lama menghuni hardisk hasil perburuan di dunia maya tapi jarang diputer.  Saya pikir hanya ada 2 lagu yang layak dinikmati dari penyanyi, penulis lagu, pianis, komposer musik film dan sekaligus aktor ini yatu Je T'aime ..Moi, Non Plus atau La decadanse. 

Beuhhh ternyata salah besar sodarah!. Paling tidak ada satu lagu lain yang layak jadi favorit : La Chanson De Prevert. Gila ini lagu ganggu banget ya, dari semalam hingga siang ini di kantor, terngiang ngiang terus. Padahal lagunya terkesan datar, hampir tidak ada lengkingan suara tenor atau beat keras atau biola yang merintih.jiahh!.  Asli french chanson banget.


Konon lagu ini terinspirasi lagu legend karya Joseph Kosma - The Autumn Leaves ( Les Feuilles mortes) dengan background eropa setelah perang dunia ke I (eh buset..tua amat)

Monggo di-icip icip, kalau suka tinggal rewind saja, nggak perlu bayar lagi.
(ihras macias)